Masih melanjutkan materi tentang konsonan, kali ini kita akan membahas tentang konsonan kembar. Agar lebih mudah memahami bunyi dan bentuk dari konsonan kembar, Sarang sangat menyarankan untuk memahami konsonan dasar terlebih dahulu.
Table of Content
Pengertian Konsonan Kembar
Sesuai dengan sebutannya yakni Konsonan Kembar, konsonan ini pada hakikatnya hanyalah 2 konsonan dasar sama yang dituliskan bersamaan. Di antara 10 konsonan dasar, ada 5 konsonan yang bisa berdiri sebagai konsonan kembar.Kelima konsonan ini adalah ㄲ, ㄸ, ㅃ, ㅉ, dan ㅆ. Semuanya merupakan 2 huruf sama yang dijadikan satu dan sudah kita pelajari sebelumnya.
| Konsonan Dasar | Konsonan Kembar |
|---|---|
| ㄱ [g/k] | ㄲ [kk] |
| ㄷ [d/t] | ㄸ [tt] |
| ㅂ [b/p] | ㅃ [pp] |
| ㅈ [j] | ㅉ [jj] |
| ㅅ [s] | ㅆ [ss] |
/ㄲ/ adalah gabungan dari dua giyeok /ㄱ/, /ㄸ/ adalah gabungan dari dua digeut /ㄷ/, /ㅃ/ adalah gabungan dari dua bieup /ㅂ/, /ㅉ/ adalah gabungan dari dua jieut /ㅈ/, dan /ㅆ/ adalah gabungan dari dua /ㅅ/.
Selain punya ciri khas bentuk karena terbentuk dari 2 konsonan sama, konsonan kembar juga punya ciri khas yang khusus ketika dilafalkan. Ciri khas ini berupa penekanan pelafalan, sehingga konsonan kembar juga kerap disebut sebagai konsonan kuat(된소리)
Maksudnya kuat di sini adalah ketika dilafalkan, organ yang digunakan untuk menghambat aliran udara ditekan lebih kuat untuk menghasilkan bunyi yang lebih jelas dan gak ngambang. Ketika organ mulut yang menghambat aliran udara ditekan, otomatis aliran udara yang keluar dari mulut kita sangat minim atau justru tidak keluar sama sekali.
Teman-teman pasti udah notice setelah belajar 10 konsonan sebelumnya, kalau pengucapan huruf-huruf dalam bahasa Korea itu akan lebih natural kalau gak ditekan dan dibiarkan agak ngambang begitu saja. Tetapi, 5 konsonan istimewa ini justru punya karakteristik yang kuat. Ayo kita bahas tiap konsonan ini satu per satu!
Konsonan ㄲ (ssang giyeok)
Dalam bahasa Korea, kata ‘kembar’ itu disebut sebagai ‘ssang'. Jadi ssang giyeok adalah 2 buah giyeok yang berdiri bersamaan. Sebelumnya sudah disebutkan kalau huruf kembar itu menunjukkan bunyi yang lebih kuat. Terus gimana cara membedakan bunyi huruf yang kuat dan yang biasa selain dari penekanan pelafalan huruf? Salah satu ciri utama yang paling kuat adalah gak ada atau minim udara yang keluar saat melafalkan huruf-huruf kembar. Artinya, organ mulut kita menekan lebih kuat sampai bisa menahan aliran udara untuk gak keluar.
Cara sederhana untuk memastikan apakah ada hembusan udara atau tidak adalah dengan memegang selembar kertas tipis atau tisu tepat di depan bibir kita saat melafalkan bunyi. Kalau kita masih mengeluarkan hembusan, kertas atau tisu tadi akan bergerak ketika kita mengucapkan bunyi huruf. Sedangkan semakin kuat organ mulut kita menahan hembusan udara, kertas atau tisu tadi tidak akan bergerak.
Ssang giyeok umumnya dipadankan dengan huruf “k” dalam bahasa Indonesia, karena huruf “k” adalah versi kuat dari huruf “g”. Coba kita ucapkan “ga-ga-ga-ga-ka-ka-ka-ka-ga-ka-ga-ka-ga-ka”. Yang satu masih mengalirkan hembusan udara, yang satu gak ada, kan? Nah, tapi biasanya ssang giyeok akan diromanisasikan dengan dobel k alias “kk” untuk lebih menekankan kekuatannya. Umumnya, dalam kasus huruf kembar di mana pun posisinya dia akan dilafalkan kuat.
Contoh:
꿈 = kkum —> mimpi
바꾸다 = ba-kku-da —> menukar
밖 = bakk —> luar
Konsonan ㄸ (ssang digeut)
Konsonan yang merupakan bentuk rangkap dari digeut /ㄷ/ ini, biasanya dilafalkan seperti huruf “t”. Sama seperti ssang giyeok tadi, ini dikarenakan huruf “t” dianggap sebagai bentuk kuat dari huruf “d”. Kalau kita coba bandingkan keduanya “da-da-da-da-ta-ta-ta-ta-da-ta-da-ta-da-ta”, kita bisa merasakan kalau “da” masih mengeluarkan hembusan, sedangkan “ta” jauh lebih minim udara.
Sama seperti ssang giyeok, ketika meromanisasikan ssang digeut dobel “t” atau “tt” lebih sering digunakan untuk menggambarkan kekuatan pelafalan dari huruf ini.
Contoh:
딸 = ttal —> anak perempuan/putri
마땅하다 = ma-ttang-ha-da —> pantas/sudah selayaknya
Catatan kecil untuk konsonan ini adalah karena ssang digeut adalah bentuk rangkap dari digeut, bentuk mulut saat melafalkan ssang digeut harus tetap sama dengan bentuk mulut saat melafalkan digeut. Alias lidah kita harus ditekan di belakang gigi depan atas saat menekan huruf “t” yang keluar, dan bukan menggigitnya di antara gigi atas dan gigi bawah seperti bagaimana kita melafalkan huruf “t” dalam bahasa Indonesia.
Konsonan ㅃ (ssang bieup)
Selanjutnya ada konsonan kembar dari bieup. Dalam bahasa Indonesia, ssang bieup paling mirip sama pelafalan huruf “p” sebagai bentuk bunyi yang lebih kuat dari “b”. Kalau kita coba lafalkan, “ba-ba-ba-ba-pa-pa-pa-pa-ba-pa-ba-pa” kita bisa merasakan kalau posisi mulut kita saat melafalkan “ba” dan “pa” itu serupa, tapi “ba” masih mengeluarkan hembusan sedangkan “pa” jauh lebih minim. Jika diromanisasikan, ssang bieup kerap dilambangkan dengan dobel “p” alias “pp” untuk menggambarkan penekanan bunyi.
Contoh:
바쁘다 = ba-ppeu-da —> sibuk
빠르다 = ppa-reu-da —> cepat
Konsonan ㅉ (ssang jieut)
Bentuk penekanan dari huruf “g” itu “k”, “d” itu “t”, dan “b” itu “p”. Nah, gimana kalau bentuk penekanan dari huruf “j” yang biasanya dipadankan sebagai jieut /ㅈ/? Bisa menebak jawabannya? Posisi organ-organ mulut kita sama ketika melafalkan jieut, tapi bedanya ketika melafalkan ssang jieut organ-organ tadi lebih ditekan untuk meminimalisir hembusan udara yang lewat.
Menyerah? Jawabannya adalah huruf “c”! Coba kita bandingkan. “ja-ja-ja-ja-ca-ca-ca-ca-ja-ca-ja-ca”. Organ yang dipakai sama, tapi hembusan udaranya beda. Nah, tapi bedanya ssang jieut gak diromanisasikan dengan dobel “c” melainkan dengan dobel “j” atau “jj”.
Contoh:
짜다 = jja-da —> asin
찌개 = jji-gae —> sup sayur
Konsonan ㅆ (ssang siot)
Nah, kali ini kita akan beralih ke bentuk rangkap dari siot (ㅅ), alias ssang siot (ㅆ). Berbeda dari bentuk kuat dari konsonan-konsonan sebelumnya, ssang siot ini sedikit lebih membingungkan karena bunyi siot dan ssang siot itu mirip. Ini karena untuk mengeluarkan bunyi mendesis, kita memang perlu mengeluarkan aliran udara. Maka dari itu, agak sulit untuk menekan huruf “s”, yang ada malah gak bunyi nanti hahaha.
Oleh karena itu, sebetulnya perbedaan keduanya gak terlalu signifikan sehingga kita gak perlu terlalu khawatir. Bentuk romanisasi dari ssang siot adalah dua “s” yaitu “ss”.
Contoh:
비싸다 = bi-ssa-da —> mahal
있어요 = i-sseo-yo —> ada
Nah, tapi ada sedikit pengecualian dari ssang siot. Ketika ssang siot berfungsi sebagai batchim dan huruf setelahnya bukan ieung (ㅇ), bunyi ssang siot akan berubah menjadi “t”.
Contoh:
있다 = it-da —> bentuk verba dari “ada”
Kalau sudah belajar tentang konsonan dasar, konsonan kembar jadi gak sulit, bukan? Ayo coba uji pemahaman teman-teman dengan mengerjakan mini quiz tentang konsonan kembar!
Selain itu, jangan lupa ada juga printable exercise yang bisa teman-teman akses untuk belajar menulis hangeul!
National Institute of Korean Language. (2005). Wegugineul wihan hangugeo munbeop (Hangugeo Gyoyuk Chongseo 1). Seoul, South Korea: Communication Books.






0 Komentar